Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Wahai Panen Harapan Lewat Hidroponik

Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Wahai Panen Harapan Lewat Hidroponik

Wahai, Pelita Maluku – Suasana penuh syukur menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai saat warga binaan Kristiani mengikuti ibadah Minggu dan memanen 15 kilogram sayuran kangkung dari kebun hidroponik yang mereka kelola, Minggu (21/6).

Kegiatan yang berlangsung di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai itu diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin Majelis Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Bethsan. Melalui pembacaan firman Tuhan dari Kitab Mazmur 137, warga binaan diajak untuk tetap memelihara iman, pengharapan, dan rasa syukur meski tengah menjalani masa pembinaan.

Usai ibadah, Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya, bersama Majelis GPM Bethsan melakukan panen kangkung hidroponik yang menjadi hasil kerja warga binaan melalui program pembinaan kemandirian.

Sebanyak 15 kilogram kangkung berhasil dipanen dari kebun hidroponik yang dikembangkan di lingkungan lapas. Hasil tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan program pembinaan yang menggabungkan penguatan mental spiritual dan keterampilan kerja.

"Kami ingin pembinaan karakter dan keterampilan berjalan beriringan. Ibadah memperkuat mental warga binaan, sementara program hidroponik memberikan bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan saat mereka kembali ke tengah masyarakat," kata Tersih.

Menurutnya, program pertanian hidroponik tidak hanya bertujuan menghasilkan produk pangan, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab, disiplin, dan kemandirian bagi warga binaan.

Majelis GPM Bethsan, Diaken J. Patty, mengapresiasi semangat warga binaan yang mampu menunjukkan perubahan positif melalui kegiatan pembinaan yang dijalankan.

"Hari ini kami melihat bukti nyata pemulihan. Tidak hanya melalui puji-pujian dalam ibadah, tetapi juga dari tangan-tangan warga binaan yang berhasil menghasilkan sayuran segar dan bermanfaat," ujarnya.

Salah satu warga binaan berinisial AM mengaku bersyukur dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai program hidroponik memberikan pengalaman berharga sekaligus harapan baru selama menjalani masa pidana.

"Melalui ibadah hati kami menjadi lebih tenang. Sementara merawat tanaman membuat kami tetap produktif dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik," katanya.

Momentum panen tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni. Momen itu menjadi simbol bahwa keterbatasan bukan halangan untuk tetap berkarya dan berkontribusi di sektor pertanian.

Melalui program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), Lapas Wahai terus mendorong warga binaan mengembangkan keterampilan di bidang pertanian modern. Program ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan dan upaya menciptakan warga binaan yang lebih mandiri setelah bebas nantinya.

Dengan memanfaatkan teknologi hidroponik, Lapas Wahai membuktikan bahwa pembinaan tidak hanya berlangsung di ruang belajar dan tempat ibadah, tetapi juga tumbuh di kebun-kebun produktif yang menanam harapan baru bagi masa depan warga binaan.


Redakdi Pelita Maluku - Ais Fasse


Sumber : https://pelitamaluku.com/dari-balik-jeruji-warga-binaan-lapas-wahai-panen-harapan-lewat-hidroponik-detail-463448