AMBON, PELITA MALUKU — Listrik bukan lagi sekadar soal lampu menyala. Di pulau-pulau kecil Maluku, hadirnya listrik 24 jam mulai mengubah cara masyarakat menjalani kehidupan sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Perubahan itu menjadi salah satu hasil yang disorot dalam kerja sama Indonesia dan Selandia Baru di bidang energi terbarukan yang kini memasuki fase kedua. Setelah berjalan sekitar lima tahun dan sempat terdampak pandemi Covid-19, kerja sama tersebut diarahkan semakin kuat pada elektrifikasi wilayah kepulauan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Philip Taula mengatakan, kunjungannya ke Maluku, Senin (14/9/2026), menjadi momentum untuk melihat langsung perkembangan program sekaligus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, mitra pembangunan dan masyarakat.
Menurut Taula, pembangunan energi tidak boleh berhenti pada pemasangan infrastruktur. Masyarakat lokal harus menjadi bagian utama agar manfaat energi terbarukan dapat bertahan dan berkembang menjadi kekuatan ekonomi.
“Yang paling penting adalah masyarakat lokal. Kalau ada keterlibatan masyarakat lokal dalam program ini, program seperti ini sangat penting,” ujar Taula.
Salah satu contoh terlihat di Pulau Tiga. Revitalisasi PLTS mikrogrid berkapasitas 75 kWp membuat sistem kelistrikan yang sebelumnya bergantung pada pembangkit diesel dapat beroperasi lebih optimal dan memasok listrik hingga 24 jam.
Dampaknya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Warga tidak hanya memperoleh penerangan, tetapi juga mulai menggunakan peralatan rumah tangga yang sebelumnya sulit dioperasikan karena keterbatasan pasokan listrik.
“Setelah ada listrik 24 jam, mereka sekarang sudah punya radio. Ada ibu-ibu yang sudah membeli mesin cuci. Ini listrik sangat membantu,” ungkap pejabat Kementerian ESDM.
Pemerintah melihat pengalaman tersebut sebagai model yang dapat dikembangkan di wilayah kepulauan lainnya. Fase kedua kerja sama akan memperkuat keterampilan tenaga lokal melalui Universitas Pattimura dan Politeknik Negeri Ambon, termasuk pengembangan laboratorium, kurikulum serta pelatihan energi surya.
Tantangan Maluku memang tidak ringan. Sistem kelistrikan yang tersebar di banyak pulau membuat biaya pembangkitan dan distribusi BBM menjadi mahal. Karena itu, pemanfaatan energi matahari, angin dan air dinilai menjadi pilihan strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap diesel.
Pemerintah menargetkan seluruh masyarakat dapat menikmati akses listrik pada 2029. Di Maluku, target tersebut sekaligus menjadi peluang untuk mengubah energi terbarukan dari sekadar sumber penerangan menjadi mesin baru penggerak ekonomi masyarakat kepulauan.
REDAKSI PELITA MALUKU - AIS FASSE