Flavia dan Denting Totobuang: Ketika Bocah 11 Tahun Menjaga Warisan Musik Maluku

Flavia dan Denting Totobuang: Ketika Bocah 11 Tahun Menjaga Warisan Musik Maluku

AMBON, PELITA MALUKU – Denting alat musik Totobuang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Flavia Tatipana, setiap bunyi yang dihasilkan dari alat musik tradisional Maluku itu menyimpan cerita, kebanggaan, dan kecintaan terhadap warisan budaya leluhurnya.

Di usianya yang baru 11 tahun, Flavia telah memilih jalan yang tidak banyak dilirik anak seusianya. Ketika musik modern semakin akrab dengan kehidupan generasi muda, siswi kelas V Sekolah Maria Mediatrix Ambon ini justru tekun mempelajari Totobuang.

Perkenalannya dengan alat musik tradisional tersebut dimulai ketika berusia delapan tahun. Tidak butuh waktu lama bagi Flavia untuk mengenal dan menguasai permainan Totobuang. Hanya dalam setahun, ia sudah mampu memainkan lima lagu.

img-1793437604.jpg

Tari Lenso, Oraplei,  Borondong E, Olong E, dan Toma Maju (TOMA) menjadi lagu-lagu yang telah dikuasainya.

Saat ditemui media ini di Kampus UKIM, Ambon, Jumat (30/10/2026), Flavia terlihat memiliki ketertarikan tersendiri terhadap musik tradisional yang terus dipelajarinya.

Kemampuannya pun tidak berhenti pada Totobuang. Ia juga bisa memainkan tifa, suling, dan recorder.

Bakat itu tumbuh bersama Sanggar Tamariska, tempat Flavia mengasah kemampuan bermusiknya. Sanggar yang didirikan ibunya, Teresia Noya Kardiari, sekitar enam tahun lalu tersebut kini memiliki lebih dari 50 anggota.

Di sana, anak-anak tidak hanya belajar Totobuang, tetapi juga mengenal tifa, suling, recorder, ukulele, gitar, hingga keyboard.

Bersama sanggar, Flavia kerap tampil dalam berbagai kegiatan ketika mendapat undangan. Setiap kesempatan tampil menjadi ruang baginya untuk terus belajar dan memperkenalkan musik tradisional Maluku kepada masyarakat.

Namun, di balik semangat itu, ada harapan yang belum sepenuhnya terjawab.

Flavia mengaku belum pernah mengikuti kompetisi khusus Totobuang. Bahkan, ia belum mengetahui adanya perlombaan semacam itu yang diselenggarakan pemerintah.

Padahal, kompetisi dapat menjadi ruang bagi anak-anak seperti Flavia untuk mengukur kemampuan, membangun kepercayaan diri, dan memotivasi generasi muda lainnya agar mencintai musik tradisional.

Kisah Flavia memperlihatkan bahwa menjaga kebudayaan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Terkadang, ia tumbuh dari tangan kecil seorang anak yang bersedia belajar, berlatih, dan menjaga bunyi warisan leluhurnya.

Di tengah perubahan zaman, denting Totobuang masih memiliki harapan. Selama masih ada anak-anak seperti Flavia yang mau memainkannya, musik tradisional Maluku tidak akan kehilangan generasi penerusnya.

Kini, tantangannya bukan hanya pada kemauan anak-anak untuk belajar, tetapi juga bagaimana keluarga, sanggar seni, masyarakat, dan pemerintah memberikan ruang agar kecintaan terhadap budaya itu terus bertumbuh.


AIS FASSE REDAKSI PELITA MALUKU 

Sumber : https://pelitamaluku.com/flavia-dan-denting-totobuang-ketika-bocah-11-tahun-menjaga-warisan-musik-maluku-detail-465232