Ketika Air Mata Bodewin Jatuh di Hari Jadi Ambon: Dua Tahun Kerja, Teguran, dan Harapan

Ketika Air Mata Bodewin Jatuh di Hari Jadi Ambon: Dua Tahun Kerja, Teguran, dan Harapan

AMBON, PELITA MALUKU — Ada saat ketika seorang pemimpin tak lagi berbicara dengan bahasa birokrasi.

Tak ada angka. Tak ada laporan kinerja. Tak ada deretan program pembangunan.Yang tersisa hanya emosi.

Itulah yang terjadi pada Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena dalam Penyampaian Pidato pada Rapat Paripurna Istimewa menyambut HUT ke-451 Kota Ambon.

Di tengah suasana perayaan hari jadi kota, air mata Bodewin jatuh. Bukan semata karena sebuah perayaan, tetapi karena ia sedang menoleh ke belakang mengingat perjalanan dua tahun kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Ely Toisutta.

Di dalamnya ada pekerjaan yang harus diselesaikan, target yang harus dikejar, pelayanan masyarakat yang harus terus dibenahi, sekaligus berbagai tantangan yang harus dihadapi Pemerintah Kota Ambon.

Dan di balik semua itu berdiri para aparatur yang bekerja melalui organisasi perangkat daerah (OPD) masing-masing.

Bodewin mengakui, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya dirinya bersama Toisutta harus marah. Ada teguran yang harus disampaikan ketika tugas pokok dan fungsi belum dijalankan sebagaimana mestinya.

Namun, kemarahan seorang pemimpin, kata Bodewin, bukan berarti hilangnya penghargaan terhadap bawahannya.

Sebab setelah teguran itu, pekerjaan tetap harus dilakukan.Tanggung jawab tetap harus dipikul. Dan roda pemerintahan harus terus berjalan.

Karena itulah, di momentum HUT ke-451 Kota Ambon, Bodewin justru memberikan penghormatan kepada jajaran OPD yang selama ini berada di belakang berbagai capaian Pemerintah Kota Ambon.

Ia bersama Toisutta menilai kerja yang telah dilakukan seluruh jajaran merupakan sesuatu yang luar biasa.

“Ini luar biasa,” ujar Bodewin.

Kalimat itu sederhana. Namun, disampaikan dalam suasana penuh haru, pesan tersebut terasa jauh lebih dalam.

Sebab bagi Bodewin, keberhasilan pemerintah kota bukanlah hasil kerja seorang wali kota dan wakil wali kota semata.

Ada banyak orang yang mungkin tidak terlihat di panggung, tetapi setiap hari menjalankan tugasnya agar pemerintahan tetap bergerak dan pelayanan kepada masyarakat terus berjalan.

Namun, Bodewin tidak ingin capaian tersebut menjadi alasan untuk berhenti.

Di usia ke-451 tahun, Kota Ambon masih memiliki pekerjaan rumah yang panjang.

Karena itu, ia meminta seluruh OPD tidak cepat puas. Kerja yang sudah dilakukan harus terus disempurnakan.

“Kita harus kembali menyempurnakan kerja-kerja kita dengan sungguh-sungguh, sehingga Kota Ambon semakin baik, semakin maju,” pesannya.

Air mata Bodewin akhirnya menjadi bagian dari perayaan HUT ke-451 Kota Ambon.

Sebuah momen yang memperlihatkan sisi lain seorang pemimpin: bahwa di balik ketegasan, teguran, dan tuntutan kinerja, ada rasa bangga terhadap orang-orang yang memilih tetap bekerja dan memikul tanggung jawab bersama.

Dan mungkin, air mata itu bukan tanda bahwa perjuangan telah selesai.

Justru sebaliknya—sebuah tanda bahwa perjalanan membangun Ambon masih harus dilanjutkan.


REDAKSI PELITA MALUKU - AIS FASSE

Sumber : https://pelitamaluku.com/ketika-air-mata-bodewin-jatuh-di-hari-jadi-ambon-dua-tahun-kerja-teguran-dan-harapan-detail-464483