MANGGARAI BARAT, Pelita Maluku — Keterbatasan fasilitas tidak memadamkan semangat para guru di Pulau Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk terus mendidik generasi muda.
Di tengah pasokan listrik yang hanya menyala sekitar satu jam pada malam hari, 25 guru dari empat sekolah mengikuti program Teach4Hope untuk memperkuat kapasitas dan kompetensi mereka.
Program tersebut resmi diawali melalui kegiatan orientasi yang berlangsung di ruang kelas MTs Tujuh Tangkai, Sabtu, 8 Agustus 2026. Teach4Hope digagas Kitabisa, didukung Kredivo Group sebagai donatur, dan dilaksanakan bersama Yayasan Insan Bumi Mandiri (IBM).
Sebanyak 25 guru peserta berasal dari MTs Tujuh Tangkai, SDN Nanga Boleng, SDN Pulau Boleng, dan PAUD Bajo Sayang. Program ini menjadi penting karena Pulau Boleng masih tergolong wilayah 3T, meski secara geografis dapat dijangkau sekitar 30 menit perjalanan darat dan 15 menit perjalanan laut dari Labuan Bajo.
Keterbatasan infrastruktur juga terasa di sektor pendidikan. Gedung sekolah menengah pertama di Pulau Boleng baru memiliki bangunan sendiri tahun ini. Di tengah kondisi tersebut, mayoritas guru masih berstatus honorer, namun tetap konsisten menjalankan tugas mengajar setiap hari.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Teach4Hope memprioritaskan peningkatan kapasitas guru, khususnya pada jenjang SMP/MTs.
Orientasi dibuka Head of Program KitabisaORG Reza Indra. Kegiatan turut dihadiri Sekretaris Desa Batu Tiga Kadirun, Direktur Kredivo Indonesia Masa Paskalis Lingga, Wakil Ketua Yayasan Tujuh Tangkai Abdul Karim, serta sejumlah perwakilan Kredivo Group.
Dalam kesempatan tersebut, Kadirun menyampaikan dukungan pemerintah desa terhadap program yang dinilai sejalan dengan kebutuhan pembangunan pendidikan di wilayahnya. Ia berharap seluruh guru mengikuti rangkaian pelatihan hingga tuntas sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh peserta didik.
Sementara itu, Abdul Karim mengungkapkan perjuangan menghadirkan sekolah lanjutan di Pulau Boleng agar anak-anak tidak lagi harus meninggalkan pulau untuk melanjutkan pendidikan.
“Dulu, anak-anak yang lulus SD di Pulau Boleng harus keluar pulau untuk lanjut sekolah, jauh dari orang tua. Itu yang membuat saya dan Pak Sukardin bertekad membangun sekolah lanjutan di sini,” kata Abdul Karim.
Menurutnya, hadirnya gedung sekolah dan siswa harus dibarengi dengan peningkatan kualitas guru.
“Sekarang bangunannya sudah ada, siswanya juga sudah ada, tinggal gurunya yang harus terus berkembang mengikuti kurikulum dan teknologi baru. Kalau guru tidak berkembang, cara mengajarnya juga akan begitu-begitu saja,” ujarnya.
Sebagai penanda dimulainya program, Kitabisa dan Kredivo Group menyerahkan seperangkat alat pelatihan kepada peserta yang diterima oleh Mahendra, guru MTs Tujuh Tangkai, dan Abdul Karim selaku Wakil Ketua Yayasan Tujuh Tangkai.
Program pelatihan dijadwalkan mulai pekan kedua Agustus 2026 dan digelar rutin setiap pekan setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
Teach4Hope akan berlangsung dalam enam pertemuan dengan tiga fokus kompetensi, yakni personal, rasional, dan vokasional. Para ahli di bidangnya akan didatangkan langsung ke Pulau Boleng untuk mendampingi para guru.
Direktur Kredivo Indonesia Masa Paskalis Lingga mengatakan program tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan melalui sektor pendidikan.
“Jangan pernah berhenti belajar, karena keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi halangan untuk terus belajar,” tegasnya.
Melalui kolaborasi Kitabisa, Kredivo Group, dan Insan Bumi Mandiri, Teach4Hope diharapkan menjadi titik awal lahirnya lebih banyak kesempatan belajar dan peningkatan kualitas tenaga pendidik di Pulau Boleng.
Sebab, ketika seorang guru berkembang, dampaknya tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan dan kompetensi yang meningkat akan diteruskan kepada siswa dan menjadi investasi pendidikan bagi generasi Pulau Boleng.
Redaksi Pelita Maluku - Ais Fasse
Sumber : https://pelitamaluku.com/listrik-terbatas-semangat-mengajar-tak-surut-teach4hope-perkuat-guru-pulau-boleng-detail-464125