AMBON, PELITA MALUKU – Perbedaan suku, agama, dan budaya bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang rukun, saling menghargai, dan menjaga persaudaraan.
Semangat inilah yang ingin dihidupkan Oldrin Parinussa, SE, melalui inovasi AKSA HARMONI (Akselerasi Pembauran Sosial dan Penguatan Persaudaraan Lintas SARA Menuju Ambon Rumah Basudara).
Gagasan tersebut dikembangkan Oldrin sebagai proyek perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXVIII. Tujuannya sederhana, tetapi penting: memastikan nilai persaudaraan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Maluku tetap hidup di tengah dinamika kehidupan Kota Ambon.
Oldrin melihat, Ambon memiliki modal sosial yang kuat melalui nilai Pela Gandong dan Siwalima. Namun, menjaga keharmonisan tidak cukup hanya mengandalkan kenangan masa lalu atau bergerak ketika konflik sudah terjadi.
Dibutuhkan langkah bersama untuk membangun kepercayaan, memperluas perjumpaan antarkelompok, serta mendeteksi potensi konflik sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Karena itu, AKSA HARMONI dirancang melalui enam strategi utama.
Mulai dari Peta Harmoni untuk memetakan potensi konflik sosial, Pela Gandong Untuk Semua untuk menghidupkan nilai persaudaraan, hingga Ruang Basudara sebagai tempat masyarakat lintas komunitas saling mengenal dan membangun kedekatan.
Inovasi ini juga melibatkan generasi muda melalui Duta Harmoni Pemuda Ambon. Sementara Harmony Early Warning System disiapkan untuk mendukung deteksi dini konflik sosial.
Tidak hanya di lingkungan masyarakat, AKSA HARMONI juga menyasar ruang digital melalui Duta Damai Maya untuk mendorong penggunaan media sosial yang sehat serta mencegah penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi bernuansa SARA.
Dalam target pelaksanaan 2026–2029, inovasi ini diarahkan membentuk 50 Duta Harmoni Pemuda Ambon, menyusun Peta Harmoni, membangun ruang interaksi lintas komunitas, serta memperkuat sistem pencegahan konflik.
Pelaksanaannya membutuhkan dukungan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, akademisi, media, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga Ambon tetap menjadi rumah basudara bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tokoh masyarakat. Setiap warga memiliki peran untuk merawatnya.
Sebab, perdamaian bukan sekadar tidak adanya pertikaian, melainkan kesediaan untuk tetap hidup berdampingan, saling menghormati, dan mengakui bahwa di tengah segala perbedaan, kita semua adalah orang basudara.
AIS FASSE REDAKSI PELITA MALUKU