MAHASISWA ARU DAN KEI DESAK PEMDA PERCEPAT BANTUAN COVID –19 DI KOTA AMBON
Rabu, 24 Juni 2020
PELITA MALUKU.COM
Bagikan

MAHASISWA ARU DAN KEI DESAK PEMDA PERCEPAT BANTUAN COVID –19 DI KOTA AMBON

Ambon, Pelita Maluku.com - Penyebaran pandemic Covid-19 di Provinsi Maluku tentunya sangat membahayakan kondisi sosial masyarakat. Sejak virus ini mulai mewabah di seputaran wilayah Maluku dalam kurun waktu 5 bulan lebih, bayangkan apa yang dirasakan masyarakat ketika berhadapan dengan  ganasnya pandemic. 

Sesungguhnya kehidupan di tengah pandemic tidak sama seperti yang sebelumnya, dengan pola hidup yang baru dan amat terasa se-akan-akan masyarakat dipaksakan untuk beradaptasi dalam situasi ini. 

Virus yang kerap disebut Corona ini cukup berbahaya jika suatu wilayah tengah terpapar dengan virus yang memiliki dampak buruk dan dapat mempengaruhi stabilitas hidup masyarakat secara holistik.

Problematika yang sementara di hadapi masyarakat Kota Ambon, tidak lain adalah virus corona. Kota Ambon sediri berdasarkan pengamatanya termasuk salah wilayah dari 34 provinsi di indonesia yang sudah menciptkan eskalasi pasien terinfeksi covid-19 kurang lebih 500-an. 

Oleh karena itu masalah Covid-19 sudah seharunya di sikapi secara serius. Selain itu, dampak dari masalah Covid sunguh merugikan, mulai dari aktivitas sosial budaya, aktivitas perekonomi dapat di batasi pada hal, pada hakekatnya semua itu sebagai kekuatan untuk menunjang kehidupanya setiap masyarakat. 

Sayangnya dalam konteks ini banyak pembatasan yang terjadi  lewat aturan-aturan atau protokol kesehatan dan kebijakan pemerintah dalam hal ini, sosial distancing, phisical distansing, Lokedown, PSBR, PKM, sampai PSBB yang sudah di lalui Kota Ambon.

Namun sejauh ini, fakta sosial yang diarasakan berbading terbalik dengan yang di harapkan. Misalnya, efektivitas penanganan Covid belum tercapai, kemudian penyaluran bantuan belum di rasakan sepenuhnya oleh masyarakat Kota Ambon secara kolektif. 

Apa lagi kondisi masyarakat yang bukan penduduk asli kota Ambon, dalam hal ini adalah Mahasiswa yang sementara menumpuh studi di Kota Ambon. tentu merasakan banyak kekurang dan kendala hidup dalam menghadapi serangan covid-19, yang cukup mengerihkan, bahkan stabilitas hidup mahasiwa di Kota Ambon ikut berpengaruh buruk, akibat potensi covid yang menjadi mimpi buruk setiap masyarakat maupun mahasiswa, mulai dari kebutuhan makan minum sehari-hari, pekerja, serta kebutuhan kampus yang ikut di pengaruhi.

Mahasiswa yang dimaksudkan adalah. Mahasiswa yang datang dari Kabupaten Kepulauan Aru, Kota Tual, dan Maluku Tenggara. Dilihat dari jumlah/kuantitas mahasiwa yang bearsal dari dua daerah tersebut, tentu masih dalam jumlah yang besar. Maka seharusnya dalam menghadapi situasi covid semacam ini, perlu adanya perhatian khusus dari Pemerintah Daerah masing-masing, untuk melihat kondisi anak-anaknya yang sementara mengeyam pendidikan di Kota Ambon.

Mahasiswa yang berasal dari dua daerah tesebut termasuk dalam kelompok mahasiswa yang tidak berkesempatan pulang ke kampung halamanya, karena beberapa faktor yang menjadi pertimbanganya antara lain, adalah akses transportasi yang di tutup, kemudian proses kuliah yang masih berjalan sehingga dalam situasi ini mahasiswa di paksakan untuk berdiam diri di Kota Ambon demi melanjtukan studinya meskipun di tengah panasnya virus corona.  

Meskipun banyak kebutuhan mahasiswa yang berasal kabupaten ini yang mengalami kendala besar, namun semangat untuk mengejar cita-citanya tak kunjung berhenti ibarat hujan yang bukan dijadikan sebagai kendala dalam beraktivitas. namun sejauh ini yang menjadi persoalan adalah sikap keprihatinan pemerintah yang belum dapat di wujudkan kepada mahasiswanya yang terpapar covid di kota Ambon. 

Ironisnya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) belum sama sekali dirasakan oleh mahasiswa yang berasal dari Kepulauan Aru dan Kepulauan Kei di Kota Ambon. Padahal dalam situasi covid sudah ada kebijkan langsung dari Pemerintah Pusat bahwa APBD dapat di alokasikan untuk penanganan pada tiap-tiap wilayah yang terpapar covid-19. 

Olehnya itu Mahasiswa Aru dan Kei yang tergabung dalam dua organisasi daerah di antaranya, Pesekutuan Aru Tengah (PAT) yang di pimpin oleh Soleman Elpupin dan Persatuan Mahasiswa Evav (PERMAVA) yang di pimpin oleh Wilson Rahayaan, SE., berharap, Pemerintah Daerah di dua Kabupaten ini lebih cepat dan bergerak untuk memperhatikan kondisi kehidupan mahasiswanya yang sementara mengalami kesengsaraan di Kota Ambon (PM.007)




Komentar

Belum Ada Komentar