Dua Pulau, Satu Darah: Kisah Gandong Nusalaut–Ambalau
Ambon, Pelita Maluku – Di peta Indonesia, Nusalaut dan Ambalau mungkin hanya dua titik kecil yang terpisah laut. Namun bagi orang Maluku, keduanya bukan sekadar pulau melainkan dua saudara yang tak pernah benar-benar berpisah.
Nusalaut, yang didominasi umat Kristen, dan Ambalau, yang mayoritas Muslim, dipersatukan dalam satu ikatan yang disebut Gandong: hubungan darah yang melampaui batas agama, geografis, bahkan waktu.
Cerita tentang keduanya hidup dari generasi ke generasi. Orang-orang tua di Maluku kerap mengisahkan bagaimana dua pulau ini seperti kakak dan adik yang “terpisah” oleh laut, tetapi tetap saling menjaga.
Ikatan itu tidak berhenti pada cerita. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Saat Idul Fitri tiba, warga Ambalau mengirim daging kurban menyeberangi laut ke Nusalaut. Beberapa bulan kemudian, ketika Natal datang, giliran warga Nusalaut mengirimkan bingkisan pangan kepada saudara mereka di Ambalau.
Tak ada kontrak tertulis. Tak ada aturan resmi. Yang ada hanya kepercayaan—dan kesadaran bahwa mereka adalah satu keluarga.
“Di sini, perbedaan bukan alasan untuk menjauh, tapi alasan untuk saling menjaga,” kata Bendahara Presidium NUSAMBA, Marla Beatriecs Kailola, di Ambon, Senin (13/04/2026).
Di tengah wacana nasional tentang moderasi beragama, praktik hidup masyarakat Nusalaut dan Ambalau justru telah lebih dulu mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu dikenal luas.
Nilai-nilai seperti saling menghormati, menahan diri dari konflik, dan mengutamakan musyawarah tumbuh alami dalam kehidupan masyarakat. Moderasi bukan sekadar konsep, melainkan cara hidup.
Ikatan Gandong juga memberi dampak nyata. Kepercayaan yang terbangun memudahkan interaksi ekonomi, memperlancar perdagangan laut rakyat, hingga membuka peluang wisata berbasis budaya damai.
Di dua pulau ini, harmoni bukan hanya menjaga hubungan sosial, tetapi juga menghidupkan ekonomi.
Bagi Kailola, pengalaman Nusalaut–Ambalau adalah pelajaran penting: bahwa merawat kerukunan tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi harus berakar pada budaya dan ingatan kolektif masyarakat.
Momentum Halal Bihalal NUSAMBA pada 14 April 2026 menjadi pengingat bahwa ikatan itu masih hidup. Di sana, dua pulau yang berbeda keyakinan kembali dipertemukan dalam satu ruang persaudaraan.
Di tengah dunia yang kian terbelah oleh perbedaan, kisah Nusalaut dan Ambalau menawarkan pesan sederhana namun kuat bahwa damai bisa tumbuh dari hal paling mendasar: merasa satu darah.
Di Maluku, mereka menyebutnya Gandong. Dan dari sanalah, harmoni menemukan rumahnya.
Redaksi Pelita Maluku - Ais Fasse
Indonesia
English
Belum Ada Komentar