KM Sabuk Nusantara 104 Sandar di Eray, Harapan Warga Wetar Kembali Menyala
AMBON, PELITA MALUKU — Harapan masyarakat Wetar Utara, Kabupaten Maluku Barat Daya, kembali menyala setelah KM Sabuk Nusantara 104 sandar di Pelabuhan Desa Eray, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kembalinya kapal perintis tersebut menjadi kabar penting bagi warga yang selama ini menghadapi keterbatasan transportasi laut. Kehadiran kapal diharapkan membuka kembali konektivitas antar-pulau sekaligus memperlancar distribusi kebutuhan pokok, layanan kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Eray, Lamberthus Managa, mengaku haru menyaksikan kapal kembali merapat setelah sekian lama tidak melayani wilayah tersebut.
“Ini momentum bersejarah yang sekian purnama hilang. Dengan sandarnya KM Sanus 104 di pelabuhan kami, kerinduan kami pun terobati,” ujar Lamberthus.
Ia mengapresiasi perhatian Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang dinilai ikut memperjuangkan aspirasi masyarakat Wetar Utara kepada pemerintah pusat.

Menurut Lamberthus, sebelumnya sejumlah tokoh masyarakat telah menyampaikan kondisi sulit yang dihadapi warga akibat terbatasnya sarana transportasi laut. Aspirasi tersebut kemudian ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi Maluku melalui koordinasi dengan Kementerian Perhubungan.
“Sejumlah tokoh masyarakat Wetar menilai Gubernur Hendrik adalah putra Lease tapi rasa orang Wetar. Bagi saya beliau telah membuktikannya. Pemimpin itu sejatinya adalah pembuktian kata-kata, bukan retorika,” tegasnya.
Tokoh agama setempat, Pdt. Deasy Tayanne, menyebut terhentinya layanan kapal sebelumnya berdampak terhadap kehidupan masyarakat, termasuk akses kesehatan, pendidikan dan aktivitas sosial ekonomi.
“Kemanusiaan kami sudah lama tertekan. Semoga di momentum HUT Proklamasi ke-81 Republik Indonesia ini, makna kemerdekaan itu terasa juga di Wetar,” ujarnya.
Dari sisi kesehatan, Kepala Puskesmas Desa Eray Grace Hobataman menilai kembalinya KM Sabuk Nusantara 104 sangat berarti bagi warga yang membutuhkan layanan rujukan.
Menurutnya, pasien gawat darurat dan ibu melahirkan selama ini menghadapi kesulitan untuk mendapatkan akses transportasi menuju rumah sakit di luar pulau.
“Bisa dibayangkan kalau tidak ada KM Sanus 104, krisis kemanusiaan kian nyata di sini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Maluku Samuel Huwae mengatakan, kembali beroperasinya KM Sabuk Nusantara 104 menjadi langkah penting dalam mengurangi keterisolasian wilayah Wetar Utara.
“Dengan dilayari kawasan itu oleh KM Sanus 104, setidaknya konektivitas antar-pulau dalam rangka membuka keterisolasian wilayah terjawab,” ujar Huwae.
Ia berharap masyarakat ikut menjaga keamanan dan kondisi kondusif agar layanan pelayaran perintis tersebut dapat terus berjalan dan tidak kembali terhenti.
Bagi warga Wetar Utara, sandarnya KM Sabuk Nusantara 104 bukan sekadar kedatangan sebuah kapal. Ia membawa kembali akses, konektivitas dan harapan bahwa kemerdekaan juga benar-benar dirasakan hingga wilayah terluar Maluku.
REDAKSI PELITA MALUKU - AIS FASSE
Indonesia
English
Belum Ada Komentar