Bodewin Soroti Pasar Mardika, Rentenir dan Preman Harus Dilawan
Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menegaskan praktik rentenir dan preman di pasar harus dilawan karena berdampak langsung pada ketidakstabilan harga dan kesejahteraan pedagang.
Pernyataan itu disampaikan di sela - sela sambutannya dalam Rapat Pleno Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Kota Ambon di Kantor OJK Karang Panjang, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, kondisi pasar yang tidak sehat menjadi salah satu penyebab sulitnya pengendalian inflasi di Ambon. Distribusi barang hingga penentuan harga, kata dia, kerap dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu di luar mekanisme pasar yang wajar.

“Kalau pasar dikuasai rentenir dan preman, harga tidak akan terbentuk secara sehat. Ini yang membuat inflasi sulit dikendalikan,” tegas Wattimena.
Ia juga menyoroti beban yang ditanggung pedagang kecil akibat jeratan pinjaman berbunga tinggi dari rentenir. Situasi ini membuat pelaku usaha sulit berkembang karena sebagian keuntungan habis untuk membayar utang.
“Pedagang harus dilindungi. Jangan sampai mereka terus terjebak dalam sistem yang merugikan,” ujarnya.

Sebagai langkah perbaikan, Pemerintah Kota Ambon mendorong percepatan digitalisasi transaksi di pasar tradisional. Sistem non-tunai dinilai mampu meningkatkan transparansi, mengurangi praktik ilegal, sekaligus memperluas akses keuangan bagi masyarakat.
Selain itu, literasi keuangan juga menjadi perhatian utama agar pedagang dan masyarakat lebih memahami pengelolaan keuangan serta memiliki alternatif layanan keuangan yang legal dan aman.
Rapat pleno TPKAD ini menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah pemerintah, OJK, dan sektor jasa keuangan dalam menciptakan ekosistem pasar yang lebih sehat.
Pemkot Ambon berharap, melalui penertiban praktik rentenir, penguatan sistem pasar, dan digitalisasi keuangan, stabilitas harga dapat terjaga dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
Redaksi Pelita Maluku - Ais Fasse
Indonesia
English
Belum Ada Komentar