Harga Cabai Tembus Rp160 Ribu, Ely Toisuta Andalkan SI KENDALI Tekan Inflasi Ambon
AMBON, PELITA MALUKU – Harga cabai di Kota Ambon melonjak hingga Rp160 ribu per kilogram. Kondisi ini menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Ambon untuk memperketat pengawasan pasokan dan harga pangan, terutama menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Menghadapi situasi tersebut, Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisuta, mendorong penguatan pengendalian inflasi melalui peluncuran aplikasi SI KENDALI Ambon (Sinergitas Kendali Inflasi dan Neraca Logistik Ambon).
Hal itu disampaikan Ely saat membuka High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama stakeholder dan distributor di Manise Hotel, Jumat (30/10/2026).
Ely mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kota Ambon pada September 2026 mencapai 0,68 persen secara bulanan, 3,29 persen secara tahun kalender, dan 4,76 persen secara tahunan.
Menurutnya, lonjakan harga cabai merah dan cabai keriting menjadi salah satu persoalan serius. Harga yang biasanya berkisar Rp40 ribu kini menembus Rp120 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram.
"Ini fenomena luar biasa. Masyarakat ikut merasakan dampaknya karena harga cabai melonjak sangat tinggi," ungkap Ely.
Ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan stakeholder bergerak melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Ely juga menginstruksikan agar Gerakan Pangan Murah diperluas ke kawasan padat penduduk, mendorong penanaman cabai dan bawang oleh kelompok tani lokal, serta memperkuat kerja sama pasokan dengan daerah produsen seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.
Sementara itu, SI KENDALI Ambon diharapkan menjadi instrumen peringatan dini untuk membaca potensi kelangkaan dan kenaikan harga sebelum berdampak lebih luas.
Melalui integrasi data distributor, Bulog, BPS, Bank Indonesia, Pelindo, dan instansi terkait, pemerintah dapat memantau pergerakan stok, harga, serta distribusi bahan pokok secara lebih cepat.
Ely menegaskan, keberhasilan aplikasi tersebut sangat bergantung pada keterbukaan dan partisipasi distributor. Pemerintah, kata dia, menjamin kerahasiaan data yang disampaikan.
"Jangan menunggu harga melonjak baru kita bergerak. Kita harus mengetahui potensi kenaikan sejak awal agar intervensi bisa dilakukan tepat sasaran," tegasnya.
AIS FASSE REDAKSI PELITA MALUKU
Komentar