Ambon, Pelita Maluku — Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menegaskan bahwa kontribusi terbesar inflasi di Kota Ambon berasal dari sektor administrasi dan distribusi, bukan semata-mata faktor alam seperti cuaca dan musim ombak.
Penegasan itu disampaikan Bodewin Wattimena saat memimpin rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Ambon di Ruang Flesingen, Balai Kota Ambon, Jumat (30/01/2026).
Menurutnya, kenaikan harga pangan akibat cuaca, musim ombak, dan keterbatasan distribusi laut merupakan masalah lama yang terus berulang setiap tahun. Namun, kondisi tersebut dinilai belum pernah diantisipasi secara serius melalui strategi jangka menengah.
“Kalau setiap tahun harga ikan dan cabai pasti naik, pertanyaannya: apa yang kita siapkan untuk mengantisipasi?” tegas Wali Kota.
Walikota Ambon dalam kesempatan itu pula menekankan pentingnya koordinasi aktif lintas kementerian, khususnya dengan:
Kementerian ESDM, agar kebijakan kenaikan BBM tidak membebani daerah kepulauan.
Selain itu Kementerian Perhubungan dapat memastikan harga tiket transportasi laut dan udara tetap terkendali, sebab kenaikan biaya transportasi berdampak langsung pada melonjaknya harga pangan di Ambon.
Wali Kota juga menyoroti kerja sama dengan Kabupaten Maluku Tengah dalam pemenuhan cabai rawit yang dinilai belum memberikan dampak nyata bagi stabilitas harga di pasar.
Saat harga cabai di Ambon melonjak hingga Rp120 ribu per kilogram, pasokan dari daerah mitra tidak segera masuk. Akibatnya, daerah lain justru lebih cepat memperoleh pasokan karena akses distribusi yang lebih mudah.
“Kerja sama tidak boleh hanya untuk memenuhi indikator pusat. Harus ada pasokan nyata di pasar,” kritiknya.
Olehnya Walikota Ambon meminta, TPID Kota Ambon harus berani memperbaiki sistem distribusi dan tata kelola administrasi agar inflasi tidak terus berulang dengan pola yang sama setiap tahun.
Redaksi Pelita Maluku -Ais











Komentar
Belum Ada Komentar