Dinkes Maluku Kejar Target Stunting 21,6 Persen dan TBC 90 Persen
AMBON, PELITA MALUKU — Dinas Kesehatan Provinsi Maluku memasang target lebih tinggi pada 2027. Prevalensi stunting ditargetkan turun menjadi 21,6 persen, sementara penemuan dan pengobatan tuberkulosis (TBC) didorong hingga 90 persen.
Target tersebut menjadi bagian penting dalam Rencana Kerja (Renja) Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Tahun 2027 yang difinalisasi melalui Workshop Finalisasi Dokumen Renja di Hotel Santika Premiere Ambon, Kamis (24/9/2026).

Target itu tidak datang tanpa tantangan. Evaluasi kinerja 2025 menunjukkan dari 13 indikator kinerja utama (IKU), baru enam indikator atau 46,15 persen yang tercapai.
Sejumlah indikator masih membutuhkan percepatan, termasuk pengobatan TBC yang baru mencapai 62,4 persen dari target 90 persen.
Di sektor gizi, prevalensi stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2024 tercatat 28,4 persen. Pada 2025 memang tidak dilakukan survei serupa, namun berdasarkan rekapan SIGIZI KESGA, angka stunting dan masalah gizi lainnya diperkirakan turun menjadi sekitar 21 persen.
Untuk 2027, Dinkes Maluku tidak hanya mengejar penurunan stunting dan peningkatan penanganan TBC. Kepesertaan aktif JKN ditargetkan mencapai 98,8 persen, angka kematian ibu 151 per 100.000 kelahiran hidup, serta rata-rata lama rawat inap rumah sakit atau ALOS ditargetkan turun menjadi tiga hari.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Maluku, Dr.sc.agr.Drh. Faradilla Atamimi, MTAPSc, saat menyampaikan sambutan Sekda Maluku, menegaskan dokumen Renja harus menjadi pedoman kerja yang aplikatif, adaptif dan terukur, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Ia meminta setiap program diselaraskan dengan RPJMD, Renstra Dinas Kesehatan, Rencana Induk Bidang Kesehatan serta arah kebijakan pemerintah daerah. Penganggaran juga harus berbasis kinerja dengan indikator dan target yang jelas.
Tantangan lain yang hendak dibenahi adalah ketimpangan tenaga kesehatan, sarana dan prasarana yang belum sepenuhnya memenuhi standar, distribusi obat, pembiayaan, serta integrasi sistem informasi kesehatan.
Kondisi geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan turut menjadi perhatian. Karena itu, Renja 2027 memasukkan penguatan pelayanan di wilayah sulit akses melalui pendekatan Integrated Island Health System (IIHS), termasuk dukungan telemedicine bagi puskesmas yang belum memiliki dokter.
Untuk menjalankan seluruh agenda tersebut, kebutuhan pendanaan Renja Dinas Kesehatan Maluku 2027 diproyeksikan mencapai Rp229,88 miliar.
Dengan target stunting 21,6 persen dan TBC 90 persen, tahun 2027 menjadi momentum untuk memperkecil kesenjangan pelayanan sekaligus memastikan pembangunan kesehatan menjangkau masyarakat hingga wilayah kepulauan yang sulit diakses.
REDAKSI PELITA MALUKU
Indonesia
English
Belum Ada Komentar